Analisa: mengapa Sony masuk ke bisnis real estate?

Sony telah membulatkan tekadnya untuk memasuki bisnis real estate. Perusahaan ini telah mengumumkan rencananya untuk meluncurkan unit real estate – termasuk broker, konsultan dan layanan managemen properti pada bulan Agustus tahun ini.

Bisnis baru ini akan dinamakan Sony Real Estate Corp, akan berbasis di area trendi Ginza di kota asalnya di Tokyo. Perusahaan ini mengucurkan investasi awal sebesar 250 juta Yen (27,8 Milyar Rupiah) untuk mendirikan unit propertinya, menurut pernyataan resminya.

Lalu mengapa salah satu perusahaan elektronik paling terkemuka di dunia ini melakukan diversifikasi ke dunia properti? Jawabannya terletak pada iklim global teknologi saat ini.

Popularitas nara sumber untuk elektronik Sony semakin memudar pada beberapa tahun terakhir ketika pelanggan lebih terpikat pada produk mobile dari perusahaan raksasa Apple dan Samsung. Pada saat yang bersamaan, permintaan pelanggan terhadap produk yang merupakan pendapatan utama Sony seperti televisi dan peralatan rumah tangga menurun.

Hal ini telah menggiring CEO Kazuo Hirai untuk meramalkan kerugian sebesar 1.1 juta US Dollar pada tahun ini hingga 31 Maret, mengakibatkan pengumuman jika perusahaan akan melakukan pengurangan 5000 pegawai dan memotong beban biaya. Perusahaan ini juga telah terus melakukan pengurangan portfolo propertinya, termasuk menjual salah satu kantornya di Tokyo yang merupakan properti dengan harga paling tinggi di Jepang pada 4 tahun terakhir.

© Shutterstock
© Shutterstock

“Sony telah mengumpulkan informasi pribadi melalui bisnis Vaio dan PlayStasionnya, jadi pihak Sony kemungkinan dapat menggunakan database pelanggan itu untuk bisnis real estate,” kata seorang pakar analisa Deutsche Bank AG Yasuo Nakane kepada harian Business Week Bloomberg. “Ini lebih kepada optimisasi aset dibandingkan langkah strategis,” kata Nakane.

Bisnis real estate baru Sony ini diharapkan untuk bisa go-public dalam 3 tahun, namun pergerakan perusahaan ini ke dunia properti barulah awalnya saja. Surat Kabar The Nikkei melaporkan bahwa perusahaan ini telah berencana untuk mengembangkan 10 bisnis baru dalam tiga tahun.